Dalam melakukan take profit, trader seringkali menghadapi dilema. Saya cukup sering mendapatkan pertanyaan ataupun curhat dari para trader, di mana setelah trader menjual saham, saham yang dijual harganya naik lagi.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari trader: "Pak Heze, bagaimana cara supaya saya bisa dapat untung lebih besar dari take profit? Soalnya seringkali saham yang saya jual, harganya selalu naik lagi."
Masalahnya, kita semua tidak akan tahu sampai di harga berapa saham akan naik. Kalau seandainya saja, kita bisa mengetahui harga saham akan naik sampai ke harga sekian sebelum koreksi, tentu saja kita semua akan menjual saham di harga tertinggi yang kita inginkan.
Tapi kita tidak mengetahui masa depan, sehingga sehebat apapun trader, semahir apapun anda, anda tidak akan mengetahui besok harga saham akan naik sampai ke harga berapa. Anda tidak mungkin bisa mengetahui di titik tertinggi berapa saham bakalan naik dengan pasti.
Bahkan bandar saham pun planning-nya bisa gagal untuk menjual di harga-harga tertentu, apabila ternyata bandar mendapatkan banyak perlawanan dari bandar lain dan trader ritel.
Bandar yang punya modal besar, pengetahuan lebih luas dan bekerja dalam tim-pun belum tentu bisa mengetahui harga saham akan naik sampai ke harga berapa, apalagi kita para trader ritel.
"Kalau begitu, analisis saham selama ini nggak berguna donk Pak Heze" Protes.
Tidak begitu donk konsepnya. Justru dengan analisis teknikal, anda bisa MENGANALISA sampai ke harga berapa harga saham BERPOTENSI naik. Dengan analisa teknikal, anda punya dasar dan pondasi untuk menentukan target take profit.
Jadi dengan analisa teknikal, anda tidak asal-asalan menentukan target jual, karena anda punya gambaran dan analisa yang jelas yang memang bisa diterapkan.
Ibarat anda naik sepeda motor. Analisa teknikal itu ibarat kaca spion. Kalau tidak ada kaca spion, anda tidak akan punya panduan untuk melihat apakah dibelakang anda ada kendaraan lain yang mau menyalip, sehingga risiko berkendara akan semakin besar jika tidak ada kaca spion.
[Pelajari juga materi, full praktik dan strategi analisis teknikal yang simpel untuk trading disini: Ebook Full Praktik Trading Saham.]
Tapi perlu kita ingat, bahwa kita bukan dewa. Kita bukan orang sakti yang bisa mengetahui masa depan. Maka dari itu, dalam analisa saham baik anda membeli saham maupun menentukan target take profit, anda juga harus menggunakan rasionalitas.
Artinya, jika saham yang sudah anda take profit ternyata naik lagi, anda juga harus memaklumi. Hal itu wajar, namanya juga market. Harga saham pasti akan fluktuatif, dan kita tidak mengetahui masa depan.
Yang paling penting: Anda sudah eksekusi take profit sesuai trading plan. Itu berarti anda adalah trader yang bisa mematuhi trading plan sendiri, dan tidak mudah tergoda.
Dalam praktikknya, sering sekali trader yang sudah menetapkan target profit di harga sekian, ketika targetnya sudah tersentuh trader tidak mau menjual sahamnya, dan berharap harga saham naik terus lebih tinggi.
Apa yang terjadi? Belum sampai ke harga target yang lebih tinggi, harga saham langsung koreksi drastis. Profit yang harusnya sudah didapatkan akhirnya malah berubah jadi floating loss.
Jadi disiplin menetapkan target take profit itu diperlukan. Analisa teknikal, trading plan, mengelola emosi trading harus diterapkan agar anda bisa lebih disiplin menetapkan target profit. Masalah saham yang anda jual naik lagi, itu urusan belakangan. Yang paling penting adalah trading plan anda saat ini.
Kedua, setidaknya anda sudah profit, anda berhasil jual untung saham anda. Ingatlah bahwa di market banyak trader saham yang masih berjuang untuk bisa mendapatkan profit. Banyak trader saham yang tersesat karena tidak trading dengan cara yang benar, sehingga sering rugi.
Memang harus saya akui, ketika saham yang kita jual untung ternyata bisa naik lagi, rasa menyesal itu pasti ada. Saya pun juga pernah mengalami demikian. Sebanyak apapun pengalaman kita di market, psikologis seperti ini pasti tetap bisa muncul pada siapapun.
Namun itu semua kembali lagi pada bagaimana kita bisa mengelola EMOSI dan MINDSET. Rasa menyesal berlebihan itu juga nggak baik, karena cepat atau lama emosi yang tidak dikelola dengan baik akan membuat rasionalitas trading hilang, sehingga kualitas trading bisa menurun.
Nah, tapi kalau anda merasa setiap kali take profit saham yang anda jual selalu naik jauh lebih tinggi, maka anda perlu melakukan: EVALUASI TARGET TAKE PROFIT.
Bisa jadi anda memang menetapkan target profit terlalu rendah. Kedua, marketnya lagi bullish tapi anda terburu menjual saham. Atau ketiga anda salah menginterpretasikan analisa teknikal, sehingga anda salah menentukan target resisten untuk take profit.
Dari potensi-potensi diatas, anda harus mengevaluasi apa yang menyebabkan target take profit anda sering meleset / tidak tepat sasaran, sehingga anda bisa memperbaikinya.
Supaya anda bisa menentukan target take profit awal, ada baiknya anda menguasai cara-cara menentukan support resisten saham yang benar. Anda bisa pelajari pada pos-pos berikut:
0 komentar:
Post a Comment
Silahkan bertanya apapun tentang saham, saya sangat welcome terhadap komentar rekan-rekan.